-->
Info : 1. Kepada para siswa/i SMKN 1 Sukabumi, diharapkan secepatnya mengirimkan tugas yang Bp tugaskan ...2. Jika para siswa/i telah mengumpulkan tugas baik berupa makalah, e-mail maupun web tetapi belum terdapat namanya di blog ini, harap secepatnya konfirmasi ke Bp ...3. Kepada mahasiswa UMMI, IMWI dan STT Nusa Putra, diharapkan mendownload bahan u'presentasi sebagai bahan UAS ...4. Tugas -tugas yang telah Bp berikan diharapkan segera dikumpulkan (Mahasiswa UMMI, STT Nusa Putra, IMWI) ...5. Nilai Ujikom KKPI tahun 2014-2015 dapat dilihat di menu download, siswa .....6. Bimbingan skripsi untuk mahasiswa Univ. Nusa Putra kleas reguler setiap hari rabu, karyawan sabtu sabtu ba'da dzuhur dan AIS hari minggu ba'da dzuhur ...terima Kasih
1 2 3 4 5

Menjadi guru IT yang baik

Ilmu komputer dalam hal ini teknologi informatika saat ini memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai bidang.  Hal ini karena hampir semua peralatan dapat dihubungkan melalui komputer, dimana sebagai pengontrolan pusat, pengolahan serta output yang dihasilkan.  Kondisi ini tentus saja membuat dunia IT sangat diperlukan dalam membantu pekerjaan manusia, sehingga diperluan sumber daya manusia yang handal untuk menangani permasalahan yang ada.
Sejak ditetapkan menjadi bagian dari pelajaran yang di masukkan kurikulum pada tahun 2006, TIK ( untuk SMA) KKPI (untuk SMK) menjadi hal yang baru bagi setiap guru baik disekolah dasar, menengah maupun tingkat atas.  Betapa tidak, dahulu jika seorang guru ingin membuat administrasi pembelajaran masih menggunakan alat bantu manual (mesin tik), tetapi dengan munculmnya komputer, mereka berangsur-angsur mempelajari komputer minimal pengoprasiannya. 
Kondisi tentu saja membuat tiap sekolah khususnya sekolah negeri memerlukan sumber daya manusia yang ahli di bidangnya.  Begitupula dari sisi pengajarnya, dimana setiap sekolah tentunya membutuhkan guru IT yang memang dibidangnya  (diploma/sarjana komputer) tidak hanya menguasai teoritis tetapi juga praktek.   Memang ada beberapa sekolah yang masih menggunakan “jasa” guru lain untuk memenuhi kebutuhan operasional pengajaran, tetapi secara ilmu mereka yang bukan bidang IT (kuliahnya) tentu saja berbeda dalam hal pendalaman materi dengan mereka yang memang kuliahnya di IT. 
Berbicara mengenai pengajaran dalam bidang IT, setelah saya mengajar dengan berbekal mengajar di tingkat SMA/SMK maupun perguruan tinggi, ternyata menjadi seorang guru IT menjadi tantangan tersendiri.  Betapa tidak, menjadi guru IT itu ibarat mencari ilmu yang tidak ada habis-habisnya.  Kenapa saya katakan hal ini, karena berintegrasi dengan persaingan antara perangkat keras maupun perangkat lunak saling berlomba-lomba untuk upgrade fasilitasnya masing-masing.  Hal ini dapat dimaklumi karena permintaan pasar dalam bidang IT yang semakin mendesak, sehingga setiap saat terjadi upgrade fasilitas yang nantinya dapat dijadikan pengetahuan bagi seorang pengajar.  Dapat dibayangkan jika seorang guru IT tidak mengupgrade ilmunya sedang setiap hari siswanya browsing pengetahuan baik itu di internet maupun di majalah, saya tidak dapat membayangkan seandainya siswa tersebut bertanya mengenai suatu hal yang gurunya tidak tahu?.  Hal ini membuat saya seakan-akan tidak lengkap rasanya  1 hari untuk tidak browsing hanya untuk meng-upgrade ilmu yang nantinya sebagai bahan pengajaran baik itu di sekolah maupun perguruan tinggi.
Tidak dapat dibantah bahwa yang membedakan antara guru / dosen dengan siswa/mahasiswa ialah karena para guru/dosen itu sehari sebelumnya minimal mempersiapkan materi sedangkan siswa/mahasiswa tidak dan mungkin saja “dipusingkan” dengan mata pelajaran/mata kuliah yang lain.   Misalnya saja jika seorang guru mengajarkan tentang basis data dengan model relational misalnya mysql, tentu guru tersebut harus mempraktekan sendiri bagaimana pengolahan basis data dengan mysl, sehingga nanti dalam praktek jika ada murid yang kesulitan dan tertangani.  Memang jika mengajar di tingkat SD,SMP sampai SLTA tidak serumit seperti tingkat perguruan tinggi yang memang membutuhkan pendalaman.  Tetapi untuk tingkat tersebut hanya difungsikan bagaimana pengoperasian dasar komputer dalam membantu pekerjaannya nanti.  Tetapi ada bagian-bagian tertentu yang mungkin sedikit mengalami pendalaman materi seperti yang dipelajari di SMK informatika dan sejenisnya.
Lain halnya jika mengajar diperguruan tinggi baik itu mengajar diploma, sarjana maupun magister bahkan doktor.  Untuk tingkat diploma karena mereka diproyeksikan untuk sebagai operasional lapangan, makan seorang dosen menitikberatkan pendalaman materi perkuliahan dalam segi praktikumnya, biasanya 70% praktek 30 % teori.   Jadi dalam hal ini seorang dosen bukan hanya kuat di teori bahkan sebaiknya kuat juga di praktikum, apalagi kalau dosen di Politeknik yang memang secara akademik menitikberatkan kearah sana.  Untuk tingkat Sarjana karena mereka pada umumnya diproyeksikan sebagai analis atau dengan kata lain perancang baik, bisanya prosentasi pedalaman teoritis agak lebih di tingkatkan.  Hal ini karena dengan kuatnya merekan para sarjana secara teoritis, maka akan dengan mudah dapat membangun sebuah sistem.  Dalam pihak dosen tentunya harus kuat juga dalam segi teoritisnya sehingga dapat merangsang mahasiswanya untuk dapat memunculkan ide-ide/konsep yang nantinya dapat dijadikan pondasi dalam merancang suatu sistem.  Bagaimana mungkin para mahasiswanya dapat membangun/merancang suatu ide jika dosennya sendiri berfikir kritis dalam mengupgrade materi-materi perkuliahan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. 
Dapat dibayangkan jika seorang dosen yang menjagar di tingkat magister mapun doktor.  Dosen tersebut tentu saja bukan hanya di” wajibkan” mempunyai wawasan yang luas tetapi juga harus dapat memberikan stimulus kepada mahasiswanya agar dapat memperdalam ilmunya secara mandiri, makanya tidak heran jika seorang dosen magister hanya menerangkan hal-hal pokoknya yang dianggap penting saja dan selebihnya diserahkan kepada para mahasiswanya, bahkan mungkin ada yang datang di perkuliahan hanya untuk “sharing ilmu” dengan para mahasiswanya.  Dalam hal ini jika dilihat sekilas tentunya mudah mengajar di tingkat magister ataupun doktoral, ya memang?.
Tetapi secara akademis para dosen yang mengajar di level tersebut tentunya selain disibukkan dengan tugas mengajar di perkuliahan juga mempunyai “beban” penelitian secara konprehensif, sehingga hasil penelitannya dapat digunakan masyarakat, belum lagi seminar yang menyita perhatian dan pikirannnya.
Jika ditarik benang merah dapat di simpulkan bahwa mengajar IT baik itu level SD,SMP,SMA/SMK atau pun Perguruan Tinggi hendaknya dapat mengupgrade ilmu baik itu sebelum, dalam proses mapun sesudahnya agar up to date dengan perkembangan dunia IT saat ini.  Makanya tidak heran jika Pemrintah mengeluarkan undang-undang Guru dan Dosen yang isinya menegaskan bahwa untuk menjadi seorang pengajar profesional seorang guru wajib berijazah S1, Dosen berijazah mininal S2 agar tidak terjadi istilah “ jeruk makan jeruk”.


Catatan iseng,

Dudih Gustian,ST 
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profilku

Salam Hangat, ini adalah blog yang bertujuan untuk sekedar share pengetahuan, pengalaman baik untuk diri sendiri maupun oranglain. Mudah-mudahan ada setitik manfaat dari tulisan didalamnya bagi anda ...Read More..

Kecerdasan Buatan mendekatkan diri pada sang Pencipta

Google+ Followers