-->
Info : 1. Kepada para siswa/i SMKN 1 Sukabumi, diharapkan secepatnya mengirimkan tugas yang Bp tugaskan ...2. Jika para siswa/i telah mengumpulkan tugas baik berupa makalah, e-mail maupun web tetapi belum terdapat namanya di blog ini, harap secepatnya konfirmasi ke Bp ...3. Kepada mahasiswa UMMI, IMWI dan STT Nusa Putra, diharapkan mendownload bahan u'presentasi sebagai bahan UAS ...4. Tugas -tugas yang telah Bp berikan diharapkan segera dikumpulkan (Mahasiswa UMMI, STT Nusa Putra, IMWI) ...5. Nilai Ujikom KKPI tahun 2014-2015 dapat dilihat di menu download, siswa .....6. Bimbingan skripsi untuk mahasiswa Univ. Nusa Putra kleas reguler setiap hari rabu, karyawan sabtu sabtu ba'da dzuhur dan AIS hari minggu ba'da dzuhur ...terima Kasih
1 2 3 4 5

sistem pendidikan kita ......

Mau dibawa kemana sistem pendidikan kita ?

Pertanyaan ini tentu menjadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini baik dari kalangan pengajar dalam hal ini guru maupun masyarakat dalam hal ini orangtua siswa.  Betapa tidak ada istilah setiap ganti pemerintahan dalam hal ini menteri pendidikan secara otomatis berubah pula kebijakan yang dihasilkannya.  Bukan merupakan rahasi umum lagi jika hal ini menimbulkan efek yang kurang baik bagi pendidikan kita khususnya siswa yang merupakan generasi penerus bangsa. 
Dulu sewaktu saya sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah, saya tidak merasa terbebani dengan adanya iuran buku.  Hal ini karena saya dapat memperolehnya dari kakak kelas maupun perpustakaan, memang hal ini “diadopsi” oleh pemerintahan sekarang yang memberikan bantuan kepada setiap sekolah dengan pengadaan buku paket dan tidak memperkenankan guru “menjual” buku pada siswanya.  Tetapi yang patut saya garis bawahi adalah sistem pendidikan saat itu cukup ampuh untuk membuat para siswa mempunyai sikap dan mental yang kuat dan tidak malas.  Karena pada saat itu yang saya rasakan dengan memperoleh nilai yang tidak memuaskan misalanya, para siswa tidak berkesempatan untuk memperbaiki nilai yang sudah di berikan gurunya, sehingga dengan hal ini menyebabkan para siswa bekerja keras untuk memperoleh nilai yang maksimal.  Setelah saya melanjutkan ke tingkat atas, hal tersebut masih saya rasakan.  Terkadang saya suka malu dengan diri sendiri jika mendapat nilai yang jelek, sehingga saya berusaha untuk meningkatkan kualitas belajar saya yang pada akhirnya mental dan sikap kerja keras terbentuk dengan sendirinya.  Tetapi kondisi saat ini bertolak belakang dengan hal tersebut, setelah saya menjadi pengajar di tingkat sekolah menengah atas mapun perguruan tinggi, maka para siswa sepertinya tidak ada “greget” untuk mendapatkan nilai yang terbaik, kenapa dapat terjadi demikian tentunya ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi.  Berikut beberapa faktor yang menurut saya dapat membuat hal tersebut, diantaranya sebagai berikut ini :
1.         Sistem pendidikan kita yang suka berganti-ganti kebijakan, hal ini tentu saja menyebabkan para siswa yang menjadi korban dari perubahan sistem tersebut.  Karena ujung pangkal yang merasakan hal ini adalah siswa.  Kita ambil contoh saja kenapa siswa yang belajar di sekolah dasar cenderung menurut  apa yang di perintahkan gurunya.  Jawabanya hanya satu yang dapat saya tarik kesimpulan yakni karena mereka selama 1 tahun tidak berganti guru, hal ini tentunya berbeda dengan siswa di SMP maupun SMA bahkan Perguruan Tinggi.  Memang karena sistemnya yang terbuat  demikian, tetapi coba kita perhatikan dengan seksama jarang sekali kita temui para siswa SD yang “bandel” pada gurunya, hal ini berbeda jika perhatikan di SMP maupun SMA.  Terkadang ada siswa yang tidak hormat kepada gurunya, bahkan ada beberapa kasus yang “menghina”  gurunya.   Jadi figur seorang guru di kelas khususnya sangatlah penting.  Jadi jika siswa SD selama 1 tahun tersebut dapat mengenal cukup karakter gurunya tetapi jika  SMP maupun SMA para siswa cukup sulit untuk mengenal gurunya tersebut sehingga sosok guru yang mana yang sebaiknya dapat dijadikan acuan bagai dirinya tidak dapat terjadi karena setiap ganti pelajaran ganti guru.   Hal ini juga akan sama jika kita analogikan dengan sistem pendidikan yang berubah-ubah, jadi mungkin saja dalam diri para siswa berfikir mau seperti apa yang akan diterapakan karena belum beres sistem pendidikan yang ada, datang lagi sistem pendidikan yang baru, begitupula yang dirasakan pengajarnya.  Saya juga sebagai seorang pengajar mengalami hal yang sama, terkadang saya berfikir kenapa urusan yang belum selesai dan memperolah apa yang diharapakan berhenti dan digantikan dengan yang baru yang pastinya butuh adaptasi dalam segala hal.
2.         Sosok guru sekarang tidaklah menjadi sebagai sosok yang berwibawa dimata para muridnya.  Memang pendapat ini tidaklah benar seratus persen, tetapi saya rasakan terkadang sewaktu saya menjadi seorang siswa, saya suka malu untuk bertemu dengan guru.  Memang kondisi saat ini berbeda dengan dahulu dimana posisi siswa dengan guru saat ini hampir seperti jari tengan dengan jari manis jaraknya,tetapi ingat figur seorang guru tidak akan bisa dilepaskan dari keberhasilan seorang siswa.   Ada beberapa kasus dimana seorang siswa dapat menjadi orang besar atau sukses karena dia melihat atau mencontoh salah seorang gurunya dalam menjalani kehidupan.  Jika seorang siswa sudah tidak menghormati gurunya berati kecil kemungkinannya dia akan menyenangi mata pelajaran yang diampunya, meskipun dilapangan terkadang saya suka lihat dengan “mata batin” ada keterpaksaan dalam hal ini, karena berbagai hal seperti takut karena gurunya galak dan lain sebagainya.  Memang kasus ini dapat diakibatkan karena ada “oknum guru” yang telah membuat siswa kecewa dengan sikap dan tingkahnya, pergaulan para siswa dari tontotan televisi, hilangnya rasa memilki sebagai seorang pelajar dan lain sebagainya yang membuat hal ini dapat terjadi.
3.         Sistem belajar tuntas yang terkesan setengah-setengah, artinya bahwa jika mengacu pada konsep sistem belajar tuntas yang sesuai dengan prosedur maka setiap guru jika terdapat siswa yang nilainya dibawah KKM, maka siswa tersebut wajib mengulangnya.  Mengulang disini bukan berarti hanya ujiannya saja, berarti mengulang kbm terhadap siswa bersangkutan sebelum diadakan ujian ulangan.  Tetapi dalam kenyataannya hal ini cukup sulit diterapkan, karena jika seorang guru mengulang demikian, maka dikhawatirkan kompetensi tidak akan tercapai karena waktu terbuang untuk mengulang siswa ybs.  Dan pada akhirnya terjadilah hal-hal yang diluar apa yang diharapkan dalam konsep belajar tuntas tersebut, seperti membeli sesuatu agar bisa meluluskan siswa ybs, atau dapat juga melakukan sesuatu asal siswa tersebut dapat lulus pada kompetensi yang sedang dijalaninya.  Kondisi didasarkan bahwa indeks pendidikan kita sebaiknya mengikuti negara yang lebih maju, sehingga barangkali pemerintah membuat kondisi dimana para siswanya terkesan harus mampu menempuh satu kompetensi atau masalah tertentu dengan kemampuan yang tidak sama, ada kesan bahwa siswa yang iq-nya dibawah rata-rata harus lulus dan sama dengan iq yang rata-rata maupun diatas rata-rata.  Jadi apa mau dikata memang hal ini secara logika tidak dapat dihindarkan karena pasti terjadi,setiap siswa yang tidak lulus harus mampu lulus dengan atau tanpa konsep dari belajar tuntas yang sesuai dengan prosedur. Tetapi apakah pemerintah tidak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkian hal tersebut?.
4.         Siswa tidak lagi menjadi khawatir jika mendapat nilai yang jelek,  kondisi ini adalah klimaks dampak negatif yang ditimbulkan dari sistem diatas.  Betapa tidak, seorang siswa terkadang ada beberaa yang tidak belajar jika besok harinya akan diadakan ujian, dan lebih parahnya lagi ada beberapa siswa yang tidak mempersiapkan diri untuk ujian nasional.  Saya melakuan penelitian ini didasarkan bahwa terkadang ujian mid semesterpun yang notabene durasi waktunya singkat, kurang lebih 4 s/d 6 bulan sekali siswa tidak mempersiapkan diri, apalagi ujian yang tingkat kesriusannya tinggi seperti UN.  Hal ini tentu sangat memprihatikankan, dengan tidak menyinggung dalam artikel ini pada para siswa yang serius dalam persiapn sebelum ujian.  Ya itu tadi karena jika siswa mendapat nilai yang tidak diharapkan, maka toh nanti juga akan ada remedial yang dapat dijadikan ang tetapi “solusi” dari masalahnya.  Coba seandainya tidak ada remedial hasil ujian, maka otomatis para siswa yang bermasalah akan berfikir ulang untuk tidak memiliki bekal.  Hal ini sama saja dengan seorang tentara yang akan berperang tetapi membawa perbekalan perang dan persiapan latihan yang cukup, maka dapat ditebak pada akhirnya tentara tersebut akan menjadi calon bulan-bulanan musuhnya.
5.         Hilangnya pendidikan mental, ahlak, rasa kebangsaan dan nasionalisme dalam kurikulum.  Memang saat ini pemerintah sedang mengedepankan materi pendidikan karakter bangsa.  Mungkin saya mempunyai analisa bahawa pemerintah mengeluakan hal ini karena banyaknya para pemegang keputusan yang berbuat dan berprilaku yang tidak baik, misalnya saja para pejabat di badan tertentu yang mengkorup demi kepentingan dirinya sendiri.  Kondisi ini tentu membuat terkikisnya kepercayaan dari masyarakat kepada pemerintah yang pada akhirnya pemerintah sendiri sulit untuk dapat meraih simpati dari masyrakat yang sudah “melek”.  Dulu selama saya menempuh pendidikan sekolah dasar, diajarkan bagaiman sopan santun terhadap sesama, yang lebih tua, orangtua dan lain sebagainya, sehingga ada beberapa persen yang menempel pelajaran tersebut dalam diri saya sampai akhir ini, misalnya saja ditanamkan sikap kejujuran, tetapi saya memperhatikan nampaknya tidak ada.  Dalam pendidikan karakter bangsa memang terdapat butir dari kejujuran misalnya, tetapi menurut saya hal tersebut terkesan terlambat untuk para siswa yang saat ini sudah duduk di bangku sekolah atas, disaat karakter para siswa sudah terbentuk sikap dan karakternya yang memang agak lumayan sulit untuk dirubah.  Begitupula rasa kebangsaan dan nasionalisme yang sudah mulai pudar dikalangan pelajar akhir-akhir ini yang membuat mereka tidak merasa bangga menjadi seorang pelajar, sehingga belajar hanya sebagai pengisi waktu saja bukan merupakan suatu kewajibannya.  Presiden soekarno berkata bahwa menjadi bangsa yang besar hendaknya menghormati para pahlawannya, hal ini menandakan bahwa sebaiknya sebagai seorang pelajar dapat meneruskan perjuangan para pendahulunya dalam meperjuangkan negara ini.  Saya terkadang suka ironi mendengar jika ada salah seorang siswa yang tidak tahu salah satu sila yang terdapat dalam pancasila, padahal pancasila adalah dasar negaranya.
Mudah-mudahan dengan renungan ini, para pengambil kebijakan khususnya dinas pendidikan dapat mendapat jalan terbaik bagi secercah harapan bagi masa depan pendidikan kita yang lebih baik.   Saya hanya berharap sebaiknya pendidikan kita mempunyai ciri khas yang dapat menjawab masalah yang ada bukan hanya “mengadopsi” sistem pendidikan dari luar yang memang memperlukan proses untuk dapat “balance” dengan warga negara Indonesia.
Majulah pendidikan kita dan raihlah prestasi agar kita dapat disejajarkan dengan negara-negara yang lebih maju yang pada akhirnya kita menjadi salah satu tujuan ilmu seperti yang pernah kita alami pada masa lalu.

Cacatan iseng,

Dudih Gustian,ST
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profilku

Salam Hangat, ini adalah blog yang bertujuan untuk sekedar share pengetahuan, pengalaman baik untuk diri sendiri maupun oranglain. Mudah-mudahan ada setitik manfaat dari tulisan didalamnya bagi anda ...Read More..

Kecerdasan Buatan mendekatkan diri pada sang Pencipta

Google+ Followers